Teori

Psikologi Vis-à-vis Marxisme (Bagian 3)

Dalam psikologi, marxisme bukanlah teori yang populer. Tidak populer dalam konteks ini berarti ada semacam anggapan bahwa pemikiran Marx dianggap tidak relevan atau tidak terlalu berguna dalam psikologi. Kondisi paling buruknya, marxisme dianggap sebagai biang dari rezim dan sistem yang totalitarian, misalnya Stalin di Rusia, Mao di Tiongkok, atau juga di Indonesia. Dalam konteks Indonesia, gagasan marxisme bahkan perlu disingkirkan lewat genosida intelektual pada 1960an (Wahid, 2018). Meskipun demikian, hari ini kita akan menemukan banyak interpretasi dan praxis marxisme. Apa yang berkembang di Eropa dan secara khusus Stalin-nya Uni Soviet merupakan bentuk degradasi dari semangat awal Marx untuk memanusiakan manusia. Lalu, teori dan praktik macam apa yang ditawarkan marxisme terhadap psikologi?

Pada praktiknya, tidak sedikit kesalahpahaman dalam mendekati gagasan Marx. Fromm (1961/2004) mencatat, misalnya, gagasan materialisme Marx melenceng menjadi: bahwa motif psikologis manusia adalah kehendak untuk memperoleh uang dan kenyamanan, kemudian perjuangan memperoleh keuntungan yang maksimal mengkonstitusikan kehidupan manusia. Sebagai akibat lanjutnya, Marx dianggap mengabaikan pentingnya kehendak bebas individu maupun mengabaikan spiritualitas manusia, akhirnya muncul anggapan bahwa Marx mengkampanyekan bahwa manusia merupakan makhluk yang tak berjiwa — misalnya dalam kritik Marx terhadap agama. Fromm (1961/2004) justru menyatakan sebaliknya, motif utama Marx adalah membebaskan manusia dari tekanan ekonomi, sehingga bisa menjadi manusia sepenuhnya. Marx mengajak kita untuk berpikir-ulang bagaimana mengatasi alienasi dan melakukan restorasi dalam kapasitas hubungannya dengan sesama yang lain dan alam.

Mengapa terjadi kesalahpahaman tersebut? Fromm (1961/2004) menujukkan bahwa pertama adalah karena keabaian akademisi dalam membicarakan Marx di ruang kelas sehingga memungkinkan setiap orang berbicara Marx dengan caranya sendiri. Kedua adalah karena rezim komunis Rusia mengapropriasi teori Marx dan menjadikannya dalih untuk menjalankan pemerintahan yang lalim. Sementara itu, dalam konteks Indonesia, menjadi sesuatu yang aneh ketika marxisme dianggap sebagai propaganda menyebarkan ateisme dan melakukan makar terhadap negara. Namun, tentu saja hal ini ada kaitannya dengan konteks perpolitikan Indonesia pada masa 1960an. Padahal, kalau kita membaca buku-buku tulisan Marx isinya merupakan kajian ilmiah mengenai seluk-beluk kehidupan manusia, terutama analisis Marx terhadap kehidupan dan hubungan sosial dalam konteks kapitalisme (lebih lanjut lihat Anugrah, 2013).

Terkait dengan kesalahpahaman tersebut, Kagarlitsky (2000) menyatakan bahwa marxisme bisa dipahami dalam dua istilah, yakni left theory dan against capitalism. Left theory bisa dimengerti dalam kerangka politis yang berusaha memberi kritik terhadap kapitalisme dan mengembangkan alternatif anti-kapitalis. Pada akhirnya, kritik dan alternatif tersebut diharapkan dapat mengembangkan masyarakat yang lebih egalitarian. Oleh karena itu, orang-orang yang belajar mengenai gagasan Marx, pertama-tama perlu mengidentifikasi problem dalam masyarakat kapitalis sehari-hari.

Wright (2019) menuliskan bahwa korosi sistem kapitalisme tampil dalam nilai ekualitas dan keadilan (equality/fairness). Artinya, persoalan pertama sistem kapitalisme adalah menciptakan akses material maupun sosial yang tidak setara dalam memperkembangkan hidup (ingat viralnya perkara “privilese”?).  Terkait dengan persoalan pertama, kedua adalah bahwa kapitalisme menggerus nilai demokrasi/kebebasan, sebab akses yang dimiliki tiap orang berbeda-beda tergantung kepemilikannya. Ketiga adalah persoalan komunitas/solidaritas atau nilai-nilai kapitalistik berlawanan dengan semangat solidaritas. Dalam kapitalisme, keserakahan dan ketakutan mendasari pasar yang kompetitif, karena itu ruang solidaritas tak lagi menjadi perkara penting. Pada akhirnya, kapitalisme membentuk individu yang kompetitif (competitive individualism) dan konsumerisme privat (privatized consumerism). Meskipun demikian, perlu dipahami bahwa ketiga persoalan yang dimunculkan tidak berarti disebabkan oleh kapitalisme belaka, tetapi kapitalisme menjadi penyumbang penting terhadap ketiga masalah tersebut. Selain itu, sekalipun banyak dikritik, toh belum ada sistem alternatif yang menggantikan kapitalisme. Akhirnya, muncul gagasan terkait kapitalisme dengan wajah yang lebih ramah (capitalism with sociable face).

Hayes (2014) menyatakan bahwa sebuah psikologi yang secara serius lekat dengan marxisme akan memperhatikan dan berusaha memahami proses psikologis dari pengalaman orang-orang serta melakukan refleksi atas kehidupan sehari-hari. Lalu bagaimana melakukannya? Pertama adalah dengan mengembangkan analisis substantif (substantive analysis) yang dilakukan dengan menganalisis realitas konkrit kehidupan sehari-hari. Analisis tersebut dilakukan dengan cara mengumpulkan segala contoh empiris, konkrit, dan praktis dalam kehidupan dan pengalaman seseorang. Kedua, setelah mengumpulkan data-data tersebut, akan disusun penilaian mengenai bagaimana efek psikologis dalam menjalani kehidupan tertentu dalam masyarakat

Serupa dengan fenomenologi atau eksistensialisme, marxisme merupakan bentuk orientasi teoretis. Gagasan marxisme pertama-tama berangkat dari konsistensi Marx yang melayangkan kritik terhadap sistem sosial yang kita kenal sebagai kapitalisme industrial dan berkembang pada abad ke-19 di Eropa. Tidak sekadar memperdebatkan persoalan ekonomi, Marx berusaha untuk memahami bagaimana relasi sosial dalam struktur produksi serta menentukan mode reproduksi serta hubungan sosial dalam keseluruhan masyarakat. Dengan kata lain, Marx mengidentifikasi dua komponen dasar masyarakat: produksi dan reproduksi. Masyarakat memproduksi berbagai macam kebutuhan untuk bertahan hidup: makanan, tempat tinggal, atau institusi. Pada saat yang sama, masyarakat juga butuh untuk mereproduksi kondisi agar produksi tetap berjalan. Dengan kata lain, masyarakat juga membutuhkan mereproduksi individu-individu yang terlibat dalam produksi dan memelihara keberadaan masyarakat. Proses produksi dan reproduksi ini — secara khusus dalam psikologi — melibatkan kondisi sosial, kultural, dan psikologis yang membuat kita merasa hidup sebagai manusia. Apa yang penting bagi ilmu psikologi dalam hal ini adalah bagaimana produksi dan reproduksi ini mengambil bentuk dalam masyarakat tertentu.

Dalam karya utamanya, Capital (1867/1906), Marx melakukan analisis yang disebut dengan kritik ekonomi politik. Marx tidak melakukan kategori terpisah terhadap ekonomi dan politik. Konsepsi yang ditawarkan Marx adalah bahwa ketika kita melakukan analisis ekonomi, mau tidak mau kita akan berbicara bentuk pemerintahan tertentu yang mengorganisasikan masyarakat, misalnya negara. Selain itu, implikasi dari analisisnya juga bersifat politis. Dalam hal ini politis dipahami bukan sekadar sebagai politik praktis pemerintahan, melainkan ada implikasi tertentu dalam temuan dan pelaporan temuan penelitian — yang dalam istilah Marx dikenal sebagai critique. Setiap data atau temuan kita memiliki konsekuensi dalam kehidupan orang biasa. Misalnya, laba bukan sekadar isu teknis dalam relasi ekonomi, melainkan bentuk dari masyarakat yang memberikan legitimasi terhadap kepemilikan pribadi dan akumulasi kekayaan dalam ranah individu. Legitimasi inilah yang kemudian dilakukan oleh peraturan yang dibuat suatu pemerintahan tertentu. Artinya, di dalam masyarakat kapitalis terdapat pemilik modal, alat produksi, pemerintahan, dan orang biasa yang turut dalam proses produksi. Keberadaan elemen-elemen masyarakat ini menunjukkan bahwa ada perbedaan kekuasaan dalam masyarakat. Sikap mengabaikan perbedaan terhadap akses kekuasaan inilah yang kemudian dikritik oleh Marx.

Problem Psikologi Menurut Marxisme

Problem pertama dan yang paling sering dibicarakan marxisme terkait psikologi adalah persoalanindividualisme. Apa yang hendak dikritik dalam problem individualisme ini adalah apapun yang orang bicarakan megenai psikologi kognitif, psikologi kepribadian, psikologi industri, atau psikologi sosial; seringkali orang ditampilkan dalam cara yang amat abstrak dan dicerabut dari konteks sosio-kulturalnya. Individualisme merupakan perspektif yang fokus utamanya adalah individu dan memelihara keyakinan bahwa individualitas dapat didefinisikan di dalam dirinya sendiri, dalam isolasi, entah dalam istilah biologi, psikologi, atau perilaku ekonomi. Problem individualisme ini tidak cukup hanya dengan menambahkan faktor sosio-kultural, melainkan juga analisis lebih dalam mengenaibagaimana individu terbentuk dalam konteks historis, sosial, dan kultural yang terintegrasi dalam dunia sosialnya (Elhammoumi, 2015).

Ketidakmungkinan mencerabut individu dari latarnya ini yang kemudian disebut dalam pemikiran abad ke-20 sebagai trans-individuality. Trans-individuality bukan sekadar memikirkan apa yang ideal dalam setiap individu, atau mengklasifikasikan individu, tetapi memahami individu sebagai bagian dari interaksi banyak hal. Artinya, trans-individuality merupakan konsepsi yang menempatkan individu tersituasikan secara sosial di mana individu dan masyarakat dikonseptualisasikan dalam istilah relasional alih-alih istilah statis dengan memiliki sifat dasar atau esensi manusia. Dalam hal ini, Erich Fromm kembali menjadi tidak relevan dalam memahami manusia. Sumbangan terbesar Fromm adalah pada bagaimana ia menggambarkan manusia berada dalam konteks hidup kapitalisme sehingga karakter-karakter yang terbentuk merupakan hasil dinamika antara ruang kapitalistik yang dinegosiasikan individu. Sekalipun demikian, ia kembali terjatuh untuk mendefinisikan sifat dasar manusia.

Apa yang kemudian seringkali luput dari beberapa pendekatan marxis adalah agency dan subjectivity. Marxisme seringkali dijadikan sebagai teori menyeluruh mengenai masyarakat. Teori menyeluruh soal masyarakat ini dikenal sebagai structural marxism (marxisme struktural). Dalam marxisme struktural, agensi dan subyektivitas ditempatkan sebagai efek dari proses dan relasi sosial, atau manusia dianggap sebagai figur yang pasif. Ekspresi kedirian kemudian direduksi sebagai bentuk dari ekspresi kolektif.

Jadi marxisme jenis tertentu dan psikologi merupakan dua hal yang berkebalikan. Yang satu jatuh ke dalam struktur dan satu lainnya jatuh dalam individu. Gagasan post-strukturalis coba menarik diri dari kedua kecenderungan dan melihat baik struktur maupun agensi individu merupakan perkara penting dalam memahami manusia. Lalu, bagaimana praktiknya? Apa yang dibidik dari petemuan marxisme dengan psikologi kemudian adalah lived experience atau pengalaman yang dihidupi. Andai Anda seorang yang beridentitas Tionghoa, mungkin marxisme akan menyumbang banyak mengenai bagaimana dalam konteks daerah Anda atau konteks keindonesiaan Tionghoa menjadi rakyat yang disingkirkan. Atau seandainya Anda seorang Papua, marxisme akan banyak menyumbang mengenai kenapa rakyat Papua hari ini tidak sedikit yang merasa tidak puas dengan pemerintah pusat atau tidak puas dengan bagaimana mereka diposisikan sebagai sesama anggota komunitas kebangsaan. Namun, pengalaman mengenai bagaimana menjadi orang Tionghoa dan orang Papua menjadi bagian lain yang mesti dijawab untuk sebuah penelitian. Tentu saja banyak sekali karakter orang-orang yang disebut sebagai Tionghoa atau Papua, justru tantangan kita adalah mengapa bisa muncul karakter-karakter yang berbeda ini agar bisa menggambarkan betapa tiap pengalaman memiliki konteks keberagaman, baik secara historis, sosial, maupun kultural.

Dengan gagasan bahwa individu merupakan produk sosial maka dibutuhkan teori perilaku individual manusia dan interaksi sosial sebagai bentuk analisis materialisme historis. Tujuan utamanya adalah menjelaskan dan terlibat dalam proses mengakhiri produksi hubungan sosial yang abstrak. Hubungan sosial yang abstrak ini dalam marxisme disebut sebagai reification yang mana konsep atau gagasan dibicarakan seolah-olah betul-betul ada sebagai obyek yang konkrit. Dalam konstruk psikologi, kita dapat menemukan mental dan kepribadian sebagai contohnya. Apakah kepribadian memang dimiliki seseorang sedari ia lahir atau justru terbentuk dalam relasi dengan orang lain sepanjang hidupnya? Mengapa kemudian tujuan ini sangat penting? Sebab, adalah tidak mungkin untuk menggambarkan dan menjelaskan manusia eksis secara individual.

 

Lihat Bagian 1

Lihat Bagian 2

Lihat Bagian 4

Tentang Penulis

Editor Nalarasa pada rubrik Teori. Sehari-hari mengajar di Fakultas Psikologi, Universitas Sanata Dharma.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.