Di bawah ini disajikan sebuah kutipan dari wawancara yang dilakukan oleh Anselma Hesti Widyastika (Selma, dalam teks disebut “S”) terhadap A. Harimurti (dalam teks disebut “A”). Selma adalah seorang mahasiswa Ilmu Komunikasi Universitas Atmajaya Yogyakarta (UAJY) yang sedang mendalami bagaimana media menjadi ruang untuk membicarakan kesehatan masyarakat. Sementara itu saya (A. Harimurti) sehari-hari mengajar psikologi, secara khusus psikologi sosial. Wawancara berikut ini hendak menunjukkan bagaimana perspektif konstruksionisme sosial (KS) dipraktikkan dalam psikologi.
KS muncul sejak tahun 1960an sebagai kritik terhadap positivisme – yakni keyakinan bahwa kita hanya mengetahui apa yang kita lihat atau katakan. Positivisme ini berkait erat dengan empirisisme, yang mana mengatakan bahwa observasi dan eksperimen adalah cara-cara untuk melihat kebenaran. Padahal, misalnya dalam sebuah eksperimen, seorang peneliti menafikan konteks sosial di mana orang hidup. Oleh karena itu, sebagaimana ditunjukkan Burr (1995), KS berusaha menggugat pengetahuan yang telah mengeras menjadi mitos ini. Ada beberapa hal yang perlu dicatat terkait asumsi dalam KS, yakni: (1) KS merupakan cara pandang kritis terhadap pengetahuan yang telah diamini, (2) Analisis KS harus bersifat kultural-historis, (3) Pengetahuan dalam masyarakat ditopang oleh proses sosial, (4) Pengetahuan dan tindakan berjalan beriringan dan bersifat resiprokal. Untuk lebih detilnya, kita akan melihat bagaimana sudut pandang KS coba dijelaskan dalam wawancara berikut.
| S | : | Menurut Anda, apa yang disebut dengan kesehatan mental? |
| A | : | Kesehatan mental dapat dipahami dalam kerangka kesejahteraan mental. Kesejahteraan mental itu yang seperti apa? Mental bisa dipahami sebagai pikiran, perasaan, dan perilaku. Jadi apabila Anda merasa bahwa pikiran, perasaan, dan perilaku memengaruhi diri Anda atau membuat Anda puas dengan relasi dengan orang lain, membuat diri terasa positif, bisa membuat keputusan dengan jernih; maka itulah yang kemudian disebut sebagai kesejahteraan mental (atau psikologis). |
| S | : | Bagaimana seseorang bisa masuk dalam kategori berpenyakit mental? |
| A | : | Saya menghindari kata ‘penyakit mental’, istilah tersebut menciptakan penyingkiran (othering) dalam sejarah umat manusia. Seakan-akan kita punya otoritas untuk menunjuk seseorang ‘kena infeksi’ tertentu dan membangun logika bahwa ‘problemnya ada di individu’. Padahal kan belum tentu, bagaimana kalau lingkungan penyebabnya? Bagaimana kalau struktur sosial yang memungkinkannya? Alih-alih penyakit mental, saya lebih memilih menggunakan istilah ‘kegilaan’ (madness). Mengapa? Istilah ‘kegilaan’ menempatkan faktor ekologis (dari individu sampai kondisi global) menjadi penentu kekacauan mental. Dalam kitab suci orang psikologi, Diagnostic and Statistical Manual of Mental Disorders, Fifth Edition (DSM-5), dituliskan sebagai ‘mental disorder’. Buku tersebut berisi klasifikasi dan diagnosis terhadap suatu gangguan mental. Gangguan mental sendiri dikatakan dalam DSM-5 sebagai bentuk disfungsi perilaku, psikologis, maupun biologis seseorang yang tidak diharapkan secara sosial maupun kultural. Menurut DSM-5 ini pula, gangguan mental merupakan sindrom klinis atau pola yang diasosiasikan dengan adanya kesusahan atau ketidakmampuan yang meningkatkan resiko penderitaan, kematian, luka, atau bahkan merasa tidak bebas. Nah, kalau misalnya Anda terdeteksi mengalami 5 simptom dari 9 kriteria suatu gangguan, bisa jadi Anda kemudian didiagnosis mengalami gangguan. Misalnya, selama lebih dari dua minggu tidak minat sama sekali dengan hal-hal di sekitar Anda, berat badan berubah drastis, insomnia atau banyak sekali tidur, tidak bisa konsentrasi, merasa bersalah, merasa tidak berharga, juga lesu; bisa jadi Anda mengalami depresi. Contoh sederhananya demikian. Namun, pendekatan ala DSM ini juga terlalu menyederhanakan. Ada sebuah kasus di Bali. Pasca-bom Bali, banyak sekali tenaga kesehatan mental yang datang ke sana dan mengatakan bahwa tidak sedikit orang yang diam. Diamnya orang Bali ini dikatakan sebagai bentuk gangguan pasca-trauma. Apa betul demikian? Bali punya konsep budaya yang dinamakan ‘ngeb’ (diam), kalau tenaga kesehatan mental membaca orang Bali sebagai trauma, bisa jadi diagnosis ini sangat fatal. Bagaimana kalau orang Bali ‘ngeb’ sebetulnya bukan simptom trauma, tapi cara berdamai dengan kondisi pasca-bom yang memang melumpuhkan kondisi ekonomi masyarakat? Kritik ini pernah ditulis oleh seorang antropolog Bali, Degung Santikarma (2003). |
| S | : | Seberapa penting kesehatan mental bagi seseorang terutama yang tinggal di daerah perkotaan? |
| A | : | Tidak hanya orang perkotaan, tapi penting bagi setiap orang yang hidup di bumi manusia ini. Selama orang tidak mampu (juga dibuat tidak mampu) mengekspresikan kapasitasnya sebagai manusia, maka kesejahteraan psikologis masih jauh dari tercapai, ya kemudian memungkinkan memunculkan persoalan mental. Namun, pandangan stereotipikal bahwa ‘kota menciptakan gangguan mental’ tidak menutup kemungkinan bahwa orang-orang di sebuah kota dengan kultur seperti abai satu sama lain, tidak memungkinkan membangun relasi yang intim, kondisi sanitasi buruk, infrastruktur berantakan, atau hal-hal lainnya bisa saja menjadi pemicu kekacauan mental. Kalau demikian yang dimaksud, saya lebih setuju mengatakan bahwa kapitalisme-lah yang menyediakan ruang untuk gangguan mental. Bayangkan, ada seorang anak tidak mendapati cukup waktu untuk berbicara mendalam dengan orangtua hanya karena kedua orangtua bekerja. Bukankah, kondisi material demikian menyumbang banyak sekali terhadap isu kesehatan mental? Tapi, kita juga tidak bisa menutup mata bahwa sebuah desa bisa juga menjadi ruang yang memungkinkan orang mengalami kekacauan mental. Pasca-tragedi 1965, banyak orang, entah di kota atau di desa, yang saling membunuh sesama anggota bangsa Indonesia. Itu kan pengalaman yang ngeri, orang dihabisi oleh tetangganya sendiri yang tiap hari bertemu. Kekacauan nasional yang merambah ke pedesaan ini sangat potensial untuk memicu kekacauan dalam ranah mental-individual. Kasusnya banyak sekali, Anda bisa melihat salah satu film Robert Lemelson yang berjudul 40 Years of Silence: An Indonesian Tragedy (2009). |
| S | : | Apakah benar masyarakat kota lebih rentan mengalami gangguan mental dibanding masyarakat desa? Apa penyebabnya? (Keterkaitan kondisi perkotaan dengan gangguan mental.) |
| A | : | Sebagaimana saya katakan di atas, bukan persoalan desa atau kotanya, namun bagaimana interaksi di dalamnya terjadi. Byung-Chul Han, seorang pemikir Korea Selatan kelahiran Jerman, menulis buku yang bagus sekali soal masyarakat kontemporer, judulnya Psychopolitics: Neoliberalism and New Technologies of Power (2017). Ia mengatakan bahwa dalam dunia kapitalisme masa kini, kita dihadapkan pada kebutuhan yang sifatnya immaterial seperti kebahagiaan, penerimaan, atau pengakuan dari orang lain. Kebutuhan material relatif terpenuhi sehingga kalau Anda lihat, banyak sekali produksi yang sifatnya menawarkan kepuasan afeksi; misalnya kopi dijual bukan karena tubuh Anda butuh kopi. Anda dikondisikan supaya butuh kopi. Atau, beberapa tahun lalu Starbuck punya iklan yang menarik, ketika Anda membeli kopi di Starbuck, sebagian dari uang yang Anda bayarkan akan diberikan kepada orang-orang di Amerika Selatan. Anda membeli, sekaligus Anda menunaikan kewajiban sosial Anda untuk membantu. Anda bisa minum kopi sambil membantu. Bukankah ini konsumsi yang disulap dengan rasa puas atau senang? Nah, dalam masyarakat yang demikian, kesehatan mental (baca: kebahagiaan atau kepuasan batin) menjadi penting. |
| S | : | Hal apa yang menyebabkan tinggal di perkotaan menjadi suatu tekanan tersendiri yang memengaruhi kesehatan mental seseorang? |
| A | : | Terkait dengan jawaban nomor 4, kota bisa saja menjadi ruang untuk menjadi sehat secara mental. Namun, ada syaratnya, bahwa kondisi perkotaan mampu menjadi arena untuk meningkatkan kualitas dan potensi manusia. Kalau kota yang semrawut, panas, penuh persoalan budaya, maka ya tidak menutup kemungkinan menyimpan bom waktu terkait persoalan kesehatan mental. Sementara itu, kalau sebuah kota benar-benar bisa menjadi ruang bagi warga untuk saling belajar dan mengakui satu sama lain, ya bisa saja kota menjadi ruang untuk bersama-sama sehat secara mental. |
| S | : | Menurut Anda, dengan kemajuan teknologi di era sekarang, apakah konsultasi daring membantu masyarakat perkotaan untuk menyelesaikan permasalahan mental yang mereka alami? |
| A | : | Pada praktiknya, butuh lebih dari sekadar konsultasi online. Biasanya konsultasi jenis ini sebatas digunakan oleh mereka yang masih bisa mengatasi persoalan mentalnya, tapi kalau sudah berat, lepas kontrol, atau tidak lagi mampu memanajemen diri, ya konsultasi online harus segera digantikan dengan penanganan lewat perjumpaan fisik. Konsultasi online ini dimungkinkan muncul karena adanya ekosistem teknologi digital, keterbatasan akses akan kesehatan mental, orang merasa malu ketika diketahui sedang mengalami persoalan mental, atau bahkan bisa juga karena kegagalan struktur sosial pertemanan dalam masyarakat. Yang saya maksud dengan kegagalan di sini adalah adanya interaksi yang menghambat potensi manusia untuk berkembang, misalnya: perundungan, prasangka, ketimpangan gender, ketimpangan ekonomi. Teknologi membantu, ya bisa jadi. Tapi, bukankah dalam kasus tertentu, teknologi ini juga kadang menjadi pemicu persoalan mental? Kalau Anda bermain HP sampai begadang, fisik kita pada hari berikutnya akan mengalami kelesuan, rasa lesu ini amat berpengaruh dengan kondisi mental kita bukan? |
| S | : | Apakah setiap orang di perkotaan berpotensi untuk memiliki kesehatan mental? Apa implikasi bagi kehidupan sehari-hari, terutama bagi masyarakat urban? |
| A | : | Mungkin maksud Anda, berpotensi sehat secara mental. Kalau demikian yang dimaksud, ya sangat mungkin. Mewujudkan kota yang sehat secara mental merupakan cita-cita banyak orang yang merasa diri menjadi ‘warga’. Mereka merasa bertanggung-jawab dengan kehidupan bersama. Sebuah kota bisa menjadi ruang yang memungkinkan warganya sehat secara mental apabila di kota tersebut sama sekali tidak ada ketimpangan ekonomi, tidak ada prasangka etnis, tidak yang menghambat pertumbuhan komunitas tertentu. Kalau mau disebutkan kota yang mana, tampaknya saya merasa kesulitan, karena dalam kenyataannya rapinya tata kota selalu menutupi ketimpangan-ketimpangan di dalamnya. Tapi, saya teringat konsep Bogotá, ibukota Kolombia, yang membuka akses luas terhadap warga tanpa peduli kelas sosialnya apa. Setidaknya, Bogotá menunjukkan pada kita bahwa sebuah kota bisa juga jadi sebuah sekolah (McGuirk, 2014). Setiap sudut kota adalah tempat kita belajar. City as a school. |
| S | : | Teori psikologi apa yang bisa mengkategorikan penyakit mental di masyarakat? |
| A | : | Sebetulnya, kita bisa mempertanyakan apa yang dimaksud ‘mengkategorikan’ di sini? Lalu, kalau sudah dikategorikan mau apa? Kita mengenal yang namanya tes IQ atau Binet. Pada awal 1900an, Alfred Binet menciptakan tes tersebut. Ia bekerja atas nama pemerintah di Amerika dengan harapan dapat menemukan sebuah alat ukur yang mampu membantu anak yang membutuhkan bantuan belajar. Dia berharap tes tersebut mampu mendeteksi kapasitas seorang anak untuk bisa berkembang intelektualitasnya. Nasib punya kata lain, dengan hadirnya tes IQ ini masyarakat semakin terkategorikan, Anda yang diberi label ‘idiot’ akan terasa sangat menyakitkan atau merasa malu berat. Bukan hanya Anda, tapi juga keluarga Anda. Gould (1996) mengatakan bahwa Binet ini awalnya digunakan untuk mereka yang dianggap tidak sesuai dengan perkembangan anak seusianya, namun pada praktiknya kemudian digunakan untuk mereka yang dikategorikan ‘normal’. Nah, mucul persoalan kemudian, anak yang sama-sama pintar berkumpul di sekolah yang sama-sama berisi orang dengan IQ tinggi. Apa akibatnya? Ya kemudian yang tidak diterima di sekolah tertentu bisa dilabeli orang biasa saja, bahkan bodoh. Nah, kategori ini kemudian juga menciptakan persoalan mental. Tetapi, kalau Anda berminat soal kategori ini, bisa membuka DSM-5. Di sana Anda akan menemukan label-label gangguan seperti: neurodevelopmental disorders, schizophrenia spectrum and other psychotic disorders, bipolar and related disorders, depressive disorders, dan lain-lain. Tampaknya ada sekitar 297 gangguan yang diklasifikasikan oleh DSM-5. |
| S | : | Melalui spesialisasi ilmu yang Anda miliki saat ini apakah ada korelasi dengan kesehatan mental seseorang? |
| A | : | Saya bukan seorang psikolog. Tidak setiap orang yang luluasn S1-nya psikologi bisa disebut psikolog. Ini kemudian tergantung S2-nya apa. Dulu, seingat saya sebelum tahun 1990, lulusan psikologi bisa menjadi psikolog asal belajar praktik. Sekarang, menjadi psikolog ada jalur sekolahnya sendiri. Sebut saja saya orang yang kebetulan belajar psikologi dan mengajar di sebuah fakultas psikologi. Saat ini, saya sedang mempelajari tiga hal dalam ilmu psikologi: psikoanalisis, wacana, dan psikologi pembebasan. Ketiganya ada kaitan dengan kesehatan mental, ketiganya mempertanyakan ‘bagaimana kita bisa memikirkan sesuatu yang sedang kita pikirkan, mengatakan sesuatu yang kita katakan, merasakan sesuatu yang kita rasakan, melakukan sesuatu yang kita lakukan?’ Dari proses mempertanyakan inilah kemudian muncul cara pandang kita yang baru, dalam arti semakin meluas (parallax view). Proses tersebut yang dinamakan analisis kritis reflektif. Hanya dengan melakukan refleksi kritis demikian, orang jadi terbiasa untuk mudah dikuasai oleh emosi atau pikiran yang buntu. Misalnya, seorang kawan merasa depresi. Kita bisa mendengarkan dan berbicara dengan kawan kita tersebut, istilah ngepop-nya ‘talking cure’. Kita pahami mengapa ia bisa merasa demikian. Kita coba menjadi seorang pendengar dan pengamat dengan harapan bisa menguraikan kekusutan mental kawan kita termaksud. Menjadi seorang konselor atau psikolog, dengan demikian, adalah menjadi pendengar, penganalisis, dan penanya yang hebat. Yang bisa membuat orang lain ganti bertanya, ‘Oh iya, kok bisa gitu ya? Kok aku gini-gitu ya?’ Tidak menutup kemungkinan bahwa Anda bisa menjadi semacam psikolog bagi diri Anda sendiri. Tapi kita juga tidak selamanya bisa belajar banyak dari diri sendiri, di sinilah kemudian peran orang lain atau psikolog diperlukan. |
| S | : | Menurut Anda apa jenis penyakit mental yang paling berbahaya dan dimiliki oleh masyarakat di perkotaan? |
| A | : | Kalau dikatakan paling berbahaya, saya pikir semua berbahaya dalam arti bisa mengancam kesejahteraan tiap-tiap orang. Tapi, kalau yang lagi nge-tren, ya depresi. Depresi ini akibat paling fatalnya adalah bunuh diri. Pada 2019, dalam sebuah laman, WHO melaporkan bahwa hampir 800.000 orang meninggal tiap tahunnya karena bunuh diri. Artinya, tiap 40 detik, ada seseorang meninggal karena bunuh diri. WHO juga menemukan bahwa bunuh diri merupakan penyebab kematian kedua pada orang berusia 15-29 tahun. Saya kadang merasa enggan berbicara soal soal bunuh diri, baik di media maupun dalam keseharian. Seringkali dikatakan bagaimana menghadapi orang yang mau bunuh diri. Tapi, kita kan tidak tahu bagaimana resepsi orang terhadap informasi ini. Jangan-jangan kita malah sedang memberi tawaran atau preferensi untuk menyelesaikan persoalan hidup lewat cara bunuh diri? Ya itu hanya kecemasan saya yang berlebihan saja, tapi kita memang sedang hidup di jaman yang mau apa saja menjadi serba salah. Kalau memang demikian mengantarkan pada preferensi bunuh diri dan melihat data soal bunuh diri di atas, bisa jadi depresi memang yang ‘paling berbahaya’ di masa kini. Setidaknya, percakapan soal depresi di tingkat global semakin gencar. Pada 2017, WHO melaporkan bahwa ada peningkatan kasus depresi sebanyak 18 persen sejak 2005. Jumlah 18 persen ini hampir setara dengan 300 juta orang. Dari 300 juta ini, kabarnya ada sebanyak 9 juta orang Indonesia. Kita bisa melihatnya dalam dua kemungkinan, pertama adalah mungkin orang semakin sadar akan isu kesehatan mental; kedua bisa jadi depresi ini menjadi label yang laku di pasaran. Hari ini kita bisa melihat orang-orang di sekitar kita yang mengatakan bahwa diri atau kawannya depresi; melihat infotainmen, artis depresi; bertemu ibu-ibu di kompleks, mengatakan juga bahwa ada yang depresi. Depresi menjadi istilah yang tak lagi mengenal batas identitas, semua orang berhak mengucapkannya. Sejak kapan istilah tersebut menjadi populer dan dalam konteks yang bagaimana, itulah yang selama ini juga coba saya identifikasi. Bukankah trauma juga demikian? Awalnya kita di Indonesia sama sekali tidak mengenal istilah trauma, sekarang kan nge-tren banget. Popularitas trauma dimungkinkan dengan kecanggihan bahasa yang bisa menggantikan istilah lain selain ‘hantu’. Kalau diperhatikan istilah ‘trauma’ mirip sekali dengan konsep ‘hantu’ di Indonesia. Sama-sama menandai hadirnya kekuatan yang tidak bisa kontrol, kapan saja dan di mana saja. Bukannya saya sinis terhadap penggunaan istilah-istilah tersebut, tapi janganlah kita sampai terjebak dengan melabeli diri. Kalau tidak jeli dan waspada, memberi label atau mendiagnosis diri, sama artinya dengan memperkeruh kondisi psikis kita sendiri. Jadi, semoga tidak ada orang yang depresi karena melabeli diri dengan ‘depresi’. |
| S | : | Bagaimana cara mengatasi penyakit mental yang dimiliki seseorang? Apakah hanya dengan berkonsultasi saja cukup? Atau ada perlakuan khusus yang dianjurkan supaya seseorang tidak mudah terkena penyakit mental tersebut? |
| A | : | Yang paling penting dalam persoalan konsultasi adalah ada tidaknya orang lain yang bisa dipercaya (subject supposed to believe). Kalau tidak ada, bahkan psikolog sendiri tidak bisa dijadikan orang yang dipercaya, maka ya susah. Woody Allen, seorang sutradara dan komedian, mengatakan bahwa ia didiagnosis mengalami persoalan mental. Selama 20 tahun dia bergelut dengan persoalannya. Ia berganti-ganti psikolog, pada kenyataannya juga tidak kemudian ia lepas dari persoalan mentalnya. Oleh karena itu, kalau kosultasi tapi si psikolog tidak bisa menempatkan diri sebagai orang yang bisa dipercaya dan orang yang konsultasi tidak bisa mempercayai si psikolog ya sama saja. |
| S | : | Menurut pengalaman Anda, bagaimana seharusnya masyarakat awam menanggapi penyakit mental? |
| A | : | Tenaga kesehatan mental, seperti psikiater dan psikolog, menjadi figur penting Indonesia masa kini dalam pemahaman bahwa mereka belajar lebih banyak untuk mendengarkan dan menganalisis persoalan mental, mereka jadi peka. Nah, kalau orang-orang di sekitar kita itu juga punya kepekaan dalam mendengarkan, barangkali hal tersebut akan menjadi kabar baik. Apa yang harus didengarkan? Ya semuanya yang ada di sekitar kita, termasuk diri kita sendiri. Bukankah orang yang tertawa itu belum tentu hatinya tidak menangis? Maka, mendengarkan bukan hanya sekadar menggunakan telinga untuk memproses sensasi auditori, tapi juga mencerap fenomena di sekitar kita. |
| S | : | Menurut Anda seberapa penting kesehatan mental di masyarakat jaman sekarang? |
| A | : | Pertama, tidak sedikit orang yang ‘mengganggap’ diri sedang dalam kondisi mental yang tidak stabil. Masalah makin rumit dengan (masih) hadirnya ke-tabu-an bicara soal problem mental, tidak sedikit yang masih merasa malu. Kedua, masyarakat masa depan macam apa yang kita kehendaki bersama? Kalau dua kondisi tersebut dipahami, barangkali kesehatan mental menjadi hal yang sangat berharga untuk diperjuangkan. |
Komentar Penutup
Dari wawancara di atas, ditunjukkan bahwa apa yang disebut sebagai kesehatan mental bukannya tidak menciptakan problem sendiri. Pembagian antara konsep masyarakat desa lebih sehat secara mental dibandingkan masyarakat kota dipandang terlalu menyederhanakan dan karenanya pandangan stereotipikal tersebut perlu dipertanyakan. Bukan soal kota atau desanya, namun lebih pada bagaimana konteks masyarakat dan interaksi yang terjadi. Dalam KS, gagasan dikotomis seperti ini yang perlu dicurigai, apalagi kalau gagasan tersebut telah mengeras menjadi mitos.
Dalam wawancara tersebut juga ditunjukkan bahwa untuk melihat persoalan kesehatan mental perlu untuk melihat materialisme kultural terkait objek bahasan. Misalnya, ketika kita hendak memahami depresi, maka kita mesti mencari tahu bagaimana depresi ini bisa muncul ke dalam percakapan masyarakat. Meskipun dalam wawancara di atas tidak ditunjukkan kapan depresi mulai menjadi bagian percakapan, namun ditunjukkan bahwa arkeologi pengetahuan mengenai depresi perlu untuk dilakukan.
Daftar Acuan
Burr, V. (1995). An introduction to social constructionism. New York: Routledge.
Gould, S.J. (1996). The mismeasure of man. New York: W.W. Norton.
Han, B.C. (2017). Psychopolitics: Neoliberalism and new technologies of power. London: Verso.
Lemelson, R., & Pasquino, A. (Produser), & Lemelson, R. (Sutradara). (2009). 40 years of silence: An Indonesian tragedy [Film]. California: Elemental Productions.
McGuirk, J. (2014). Radical cities: Across Latin America in search of new architecture. London & New York: Verso.
Santikarma, D. (2003, 18 Mei). Dari stress ke trauma: Politik ingatan dan kekerasan di Bali. Kompas.

Editor Nalarasa pada rubrik Teori. Sehari-hari mengajar di Fakultas Psikologi, Universitas Sanata Dharma.
