(Tulisan ini merupakan pengantar untuk buku Utopia Estetis Mia Bustam [Fakutas Psikologi USD, 2025]).
Adalah suatu ironi bahwa enam puluh tahun selepas Mia Bustam dipenjara, Soeharto – orang yang paling bertanggung jawab terhadap genosida intelektual di Indonesia – justru dijadikan sebagai pahlawan oleh otoritas negara.
Saya pertama kali “mengenal” Mia Bustam pada 2013 melalui cetakan kedua Sudjojono dan Aku (2006). Saat saya memegang dan membaca judulnya, saya langsung berpikir, “Ini Indonesia sekali!” Entah apa maknanya. Saya kira, peletakan nama “Sudjojono” baru diikuti “dan Aku”, bukan menunjukkan inferioritas perempuan yang berada di belakang laki-laki, ini bukan sekadar persoalan gender. Peletakan “dan Aku” menunjukkan kehati-hatian ala Indonesia. Judul tersebut sama sekali jauh dari egosentrisme, ia tidak dituliskan “Aku dan Sudjojono”. Saat menyelami kisahnya, saya merasai ketangguhan “Aku” dalam sudut pandang pencerita. Saya mulai memahami apa yang kala itu juga saya temui melalui tulisan Carol Hanisch (1969) bahwa “the personal is political.” Kisah personal Mia Bustam, saat di-publik-kan, kemudian menemukan kekuatan politik dan kultural yang begitu merdu.
Kumpulan tulisan dalam buku ini adalah wujud respons terhadap pameran studi arsip Mia Bustam: Karya, Kehidupan, dan Pemikiran yang berlangsung pada 6 Oktober 2025 hingga 20 November 2025 di Benteng Vredeburg, Yogyakarta. Boleh dikatakan bahwa “Mia Bustam” tidak sekadar menjadi subyek, melainkan juga menjadi proyek panjang yang berresonansi dan membentuk emotional echo-chamber dan empati kolektif dalam perdebatan seni rupa maupun sejarah perempuan Indonesia.
“Proyek” Mia Bustam menjadi yang upaya mendesak dan krusial untuk memosisikan kembali Mia Bustam (Sasmiyati Sri Mojoretno, 1920-2011) ke dalam narasi sejarah seni rupa dan perempuan Indonesia. Selama puluhan tahun, Mia Bustam – yang adalah seorang perupa, penulis, penyulam, aktivis, ibu, dan istri – nyaris hanya dikenang sebagai mantan istri pelukis modern Indonesia, S. Sudjojono. Namun, Mia Bustam melampaui pelabelan tunggal tersebut. Mia Bustam adalah seorang pemimpin organisasi kebudayaan, seorang ibu tunggal dari delapan anak, dan – tentu saja – seorang penyintas sejarah yang mengabadikan diri lewat seni dan arsip personalnya. Ia adalah seorang pencatat dan pencerita pada suatu zaman yang tidak kunjung selesai. Melalui tetralogi memoarnya, Mia Bustam menunjukkan keberanian dan keteguhan dalam menantang narasi sejarah Indonesia yang meminggirkan perempuan dan cenderung konformis. Mia Bustam melampaui melankolia (Reza, 2025). Melampaui resiliensi, ia menampilkan resistensi.
Hidup dalam suatu tahun-tahun yang berbahaya (the years of living dangerously), Mia Bustam mengalami berbagai gejolak politik dan budaya. Ia menjumpai revolusi Indonesia, hingga kemudian dipaksa berhenti berkarya oleh gerakan kontra-revolusi ala Indonesia. Ia ditangkap pada 23 November 1965 di hadapan anak-anaknya. Keterlibatannya dalam Lembaga Kebudajaan Rakyat (LEKRA) menjadikannya tahanan politik Orde Baru. Selama kurang lebih 13,5 tahun, ia ditahan tanpa peradilan. Ia dipaksa berpindah dari penjara satu ke penjara lainnya. Sebagian besar karya seninya hilang pada masa-masa genosida intelektual Indonesia. Kebebasannya terenggut. Tidak sekadar bernuansa personal, penghapusan historis ini menihilkan peran perempuan progresif dalam sejarah seni rupa maupun sejarah Indonesia. Namun, melalui memoar dan berbagai karyanya, keterpenjaraan diri ini agaknya tidak membuat pikirannya ikut terpenjara.
Historiografi Perempuan
Dirgantoro (2017) mengadopsi dua strategi penulisan sejarah feminisme dalam seni di Indonesia. Strategi pertama adalah koreksi (correction). Dalam strategi ini, Dirgantoro berupaya menyisipkan nama dan karya Mia Bustam bersama dengan Emiria Sunassa ke dalam kanon sejarah seni rupa Indonesia. Keduanya menjadi narasi tandingan (counter-narratives) terhadap sejarah seni rupa yang cenderung maskulinis. Sementara itu, strategi kedua adalah interogasi (interrogation). Secara ringkas, strategi interogasi ini menilik bagaimana perupa perempuan seperti Mia Bustam menggunakan strategi feminis untuk mengangkat isu personal dan politis dalam karyanya.
Kemampuan bersuara lewat karya rupa maupun tulis menegaskan signifikansi Mia Bustam dalam perdebatan sejarah (seni rupa) Indonesia. Low (2021) mencatat bahwa memoar Mia Bustam “menyediakan bukti yang tidak terbantahkan tentang bagaimana ia telah mengartikulasikan otoritas kreatif dan intelektual di arena publik” (hlm. 336). Karyanya bisa dibilang sebagai manifestasi historiografi perempuan yang merekam pengalaman kekerasan negara, trauma, dan resistensi melalui narasi personal yang memuat artefak kultural. Narasi personal Mia pada akhirnya mengintervensi wacana sejarah nasional Indonesia.
Secara terbuka, Mia Bustam menyatakan dilema yang dihadapi seniman perempuan. Seorang seniman perempuan memikul triprogram, yakni ngurusi pawon, botjah2, nggambar lan organisasi (mengurusi dapur, anak-anak, menggambar dan organisasi). Dalam ruang artistik, seniman perempuan dihadapkan pula dengan urusan domestik. Yang menjadi persoalan bukan sekadar pilihan antara artistik atau domestik, melainkan lebih pada ketimpangan tanggung jawab antara figur laki-laki dengan perempuan dalam pembagian perannya. Ketika Mia Bustam menulis suratnya kepada Kartika Saptohudojo pada 1960, ia dengan jujur mencurahkan pergulatan antara yang artistik dengan yang domestik:
“Ah Tika, begitu banyak yang minta dilukiskan, begitu banyak. Dan serasa kita akan kekurangan waktu untuk menampung semua itu di atas kanvas kita, Wanita! Dengan segala kesulitan, segala tantangan-tantangan kita! Objek-objek memanggil, tapi: — nanti dulu aku harus menyelesaikan pekerjaan dapur, aku harus mencuci, aku harus mengurus anak-anak, kamar tidur belum beres, si bungsu meriang, — etc, etc. Kita kadang-kadang hampir putus asa. Kita mengeluh: —Bisakah aku mencapai apa yang aku gairahkan? Bisakah aku berdiri sejajar dengan yang sekarang berhak untuk menyeleksi, mengkritik, dan mengapkir lukisan-lukisan kita?”
Meskipun ia menegaskan antara yang artistik dan yang domestik, Mia secara tegas menolak ide pendirian organisasi seniwati. Ia berkeyakinan bahwa seni tidak mengenal gender (sexe). Ia mendesak seniman perempuan untuk terlibat bersama kaum lelaki dan bekerja sama untuk “memajukan dan membela kebenaran di mana saja, dengan cara apapun, tak kenal takut, tak ingat sexe.” Posisi Mia digambarkan oleh Johanna Vita Maria (2025) sebagai representasi dari seni yang membebaskan, yang melampaui batas-batas sosial untuk memunculkan kesadaran tandingan.
Seni sebagai Utopia yang Membangun Nalar Publik
Meminjam istilah Herbert Marcuse (1978), karya dan perjuangan Mia Bustam berfungsi senagai perwujudan utopia estetis (aesthetic utopia) yang vital dalam membangun nalar publik. Marcuse menuliskan bahwa kekuatan radikal seni tidak terletak pada pesan ideologis langsung, melainkan pada bentuk estetis yang otonom. Seni mampu menciptakan dunia alternatif dan membebaskan kesadaran manusia dari realitas yang menindas.
Utopia estetis Mia Bustam tampil dalam karya-karyanya seperti kristik Shima Mendaki Gunung Kinabalu atau sketsa bunganya yang sederhana. Karya-karya tersebut mengubah trauma menjadi bentuk ekspresi yang lembut sekaligus kuat. Lukisan yang tidak selesai seperti Potret Keluarga (1959) justru menghadirkan utopia dengan menolak kesempurnaan dunia dalam tuntutan logika penyelesaian. Ketidakselesaian tersebut menunjukkan resistensi terhadap keterbatasan waktu. Penderitaan diubah Mia menjadi ekspresi kreatif dan sublimatif yang menyelamatkan jiwa. Cindy Ocha Fasta Nanda (2025) menekankan bahwa Mia “menolak untuk direduksi menjadi korban sejarah. Melalui seni, ia merebut kembali subyektivitasnya.”
Selain itu, lukisan dan arsip personal Mia Bustam menampilkan apa yang disebut Benjamin (2007) sebagai “aura”. Aura ini menampilkan kehadiran unik yang menolak amnesia kolektif. Pameran Mia Bustam ini tidak sekadar menampilkan karya, melainkan juga menghidupkan kembali aura masa lalu yang selama ini dihapus paksa oleh kekejian rezim militer Soeharto. Dengan kata lain, pameran ini menjadi tindakan dan praxis yang menyangkal penyeragaman sejarah oleh pihak penguasa. Ia menawarkan produksi ruang baru, sebuah dunia lain dengan suara yang lebih beragam. Ia, singkat kata, membangun nalar publik (Habermas, 1989).
Proses membangun nalar publik tersebut tampil dalam ruang pameran yang bertransformasi menjadi ruang publik komunikatif dan ruang terapi sosial. Dalam pameran ini, pengunjung diajak untuk mempercakapkan secara rasional dan empatik mengenai patahan sejarah, peran perempuan, dan trauma kolektif bangsa. Pada sisi lain, seni Mia Bustam dengan kejujuran personalnya menjadi jembatan yang menghubungkan pengalaman individu dengan kesadaran kolektif. Bahwa setiap orang di/tersituasikan pada saat dan tempat tertentu. Pengalaman Mia Bustam merupakan situated testimonies (Sears, 2013) yang kemudian mendorong publik untuk membayangkan bangsa yang lebih empatik. Sebuah bangsa yang berani mengakui bahwa dirinya telah berpuluh-puluh tahun menyingkirkan dan membungkam suara dari rakyatnya sendiri.
Akhir kata, buku yang merespons proyek Mia Bustam ini bukan sekadar kompendium untuk menambah rumit catatan sejarah. Buku ini merupakan sebuah praktik etis untuk senantiasa mengingat, dan mungkin memulihkan. Kehadiran (kembali) Mia Bustam dalam perdebatan publik Indonesia seolah-olah menegaskan bahwa kesabaran revolusioner senantiasa tinggal dan bertumbuh di antara situasi politik yang hampir membuat putus asa. Kesabaran revolusioner Mia Bustam – dalam mencatat, menyulam, dan bertahan di tengah represi politik yang brutal – barangkali hendak meneruskan pesan kepada kita bahwa: sesunyi-sunyinya perlawanan, pada akhirnya ia akan menciptakan bunyi.
Unduh Buku:
A. Harimurti & Ngurah Arya Taruna Darma (Eds.) – Utopia Estetis Mia Bustam (Jilid Pertama) (2025)
A. Harimurti & Ngurah Arya Taruna Darma (Eds.) – Utopia Estetis Mia Bustam (Jilid Kedua) (2025)
Daftar Acuan
Benjamin, W. (2007). The work of art in the age of mechanical reproduction. Dalam H. Arrendt (Ed.), Illuminations (hlm. 217-252). Schocken Books.
Bustam, M. (1960/2025). Haruskah seniwati memisahkan diri dari seniman? (Surat kepada Kartika Saptohudojo). Harian Rakjat, 27 Februari 1960. Dalam A. Reza, S. Tanaga, A. Widi & B. Nabila (Eds.), Zine Mia Bustam (hlm. 29-32). Benteng Vredeburg & Biennale Jogja 18.
Dirgantoro, W. (2017). Feminisms and contemporary art in Indonesia: Defining experiences. Amsterdam University Press.
Habermas, J. (1989). The structural transformation of the public sphere: An inquiry into a category of bourgeois society (Penerj. T. Burger). MIT Press.
Hanisch, C. (1969). The personal is political. carolhanisch.org
Low, Y. (2021). Mia Bustam and her memoirs: Speaking for herself. Southeast of Now: Directions in Contemporary and Modern Art in Asia, 5(1), 335–338.
Marcuse, H. (1978). The aesthetic dimension: Toward a critique of Marxist aesthetics. Beacon Press.
Maria, J.V. (2025). Seni, perempuan, dan sejarah: Surat terbuka Mia Bustam kepada Kartika Saptohoedojo. Dalam A. Harimurti & N.A.T. Darma (Eds.), Utopia estetis Mia Bustam (Jilid Kedua) (hlm. 15-24). Fakultas Psikologi USD.
Nanda, C.O.F. (2025). Dari abu menuju cahaya: Sketsa burung phoenix dan estetika pembebasan Mia Bustam. Dalam A. Harimurti & N.A.T. Darma (Eds.), Utopia estetis Mia Bustam (Jilid Pertama) (hlm. 88-96). Fakultas Psikologi USD.
Reza, A. (2025). Memoar Mia Bustam: Melampaui melankolia kiri Indonesia. Dalam A. Reza, S. Tanaga, A. Widi & B. Nabila (Eds.), Zine Mia Bustam (hlm. 8-11). Benteng Vredeburg & Biennale Jogja 18.
Reza, A., Tanaga, S., Widi, A., & Nabila, B. (Eds.). (2025). Zine Mia Bustam. Benteng Vredeburg & Biennale Jogja 18.
Sears, L. (2013). Situated testimonies: Dread and enchantment in an Indonesian literary archive. University of Hawai‘i Press.

Editor Nalarasa pada rubrik Teori. Sehari-hari mengajar di Fakultas Psikologi, Universitas Sanata Dharma.
