Buku

Menyiasati Ketergesaan

(Tulisan ini merupakan pengantar untuk buku Emosi, Memori, Taktik Sehari-hari: Eksperimentasi Catatan Psikogeografis [Fakultas Psikologi, 2025] yang dieditori A. Harimurti & Yulianus Febriarko).

Suatu kota bisa kita lihat dari atas. Tampaknya teratur. Tenang. Terpetakan. Penampakan utopia demikian biasanya disajikan oleh arsitek, perencana kota, maupun citra pariwisata. Namun, di bawah wajah yang rapi tersebut, terdapat jenis kota yang lain – labirin yang bernapas, bergerak, dan ditulis ulang oleh jutaan kaki yang langkahnya acak, emosi yang tersembunyi, dan spontanitas bertahan hidup. Buku “Emosi, Memori, Taktik Sehari-hari: Eksperimentasi Catatan Psikogeografis” ini merupakan sebuah undangan untuk meninggalkan perspektif kota dari atas – yang oleh de Certeau (1984) disebut sebagai voyeur-god. Michel de Certeau (1984) mengajak kita untuk melihat kota pada level jalanan dan pejalan kaki. Dengan perspektif demikian, maka tubuh menjadi instrumen sensorik utama untuk mendekode lanskap afektif, kultural, maupun politis dalam ruang urban.

Kolase tulisan dalam buku ini merupakan kompilasi naratif dari mahasiswa Fakultas Psikologi Universitas Sanata Dharma. Mereka secara eksperimental mengaplikasikan kerangka teoretis psikogeografi untuk menganalisis benturan antara jiwa (psyche) dengan tempat (geography) di sekitaran Yogyakarta (dengan pengecualian; satu tempat di Jakarta). Guy Debord, orang yang menciptakan istilah psikogeografi, menyatakan bahwa psikogeografi merupakan studi mengenai efek spesifik dari lingkungan geografis, yang secara sadar maupun tidak, memengaruhi emosi dan perilaku manusia (Coverley, 2006). Debord (1958) sendiri mengakui bahwa istilah psikogeografi memiliki suatu “kekaburan yang menyenangkan” (“a pleasing vagueness”). Buku ini, tentu saja, merayakan kekaburan tersebut sembari membiarkan narasi pribadi mengisi celah-celah yang diabaikan oleh peta resmi.

 Sekilas Menyoal Flâneur dan Dérive

Jantung eksperimentasi yang termuat dalam narasi berjalan kaki dalam buku ini terletak pada praktik berjalan tanpa tujuan atau urban wandering – layaknya seorang pengembara. Praktik tersebut berakar dari tradisi flâneur pada abad ke-19 di Paris. Sebagai sebuah “ibukota” dunia pada abad tersebut, Paris melahirkan sosok pejalan kaki soliter yang menikmati kota dengan langkah santai, mencermati kehidupan tanpa ketergesaan. Flâneur – demikian Charles Baudelaire dan Walter Benjamin (1999) menyebutnya – menjadi pengamat yang menyerap suasana kota sambil tetap menjaga jarak reflektif serta menolak ritme efisiensi dan produktivitas industrial.

Puluhan tahun kemudian, tradisi flâneur ini bermetamorforsis menjadi dérive (melayang-melanglang). Dérive menjadi teknik kunci dalam perkumpulan Situationist International (SI) yang diinisiasi oleh Guy Debord. Dérive merupakan pergerakan transien yang melepaskan diri dari motif rutin (bekerja atau rekreasi terstruktur) dan membiarkan diri “terseret” oleh dorongan afektif dan suasana lingkungan (ambiance) untuk tujuan investigasi psikogeografis (1958/2021). Dérive adalah upaya melawan banalisasi yang membuat pengalaman sehari-hari menjadi monoton.

Selain menengok tradisi flâneur dan SI yang terkenal revolusioner, para penulis dalam buku ini juga menoleh pada tradisi kritis ala Iain Sinclair dan Will Self. Keduanya merupakan seorang psikogeografer Inggris kontemporer. Perspektif kontemporer ini melihat kota sebagai lanskap kekuasaan dan memori. Mereka melihat ruang pinggiran (edgelands) yang mencerminkan ketimpangan sosial dan psikis. Apabila flâneur cenderung nostalgis, psikogeografer kontemporer ini seperti seorang “stalker” yang bergerak dengan intensi untuk mengekspos ketidakadilan atau menolak keseragaman cara melihat kota.

Taktik Keseharian, Melawan Kekuasaan

 Titik pertemuan utama dalam kolase tulisan ini adalah gagasan yang dinyatakan Michel de Certeau dalam The Practice of Everyday Life (1984). Dengan mengawali narasi pengalamannya pada sebuah gedung tinggi di New York, de Certeau (1984) membedakan cara kota dipahami dari atas (concept-city) dengan kota yang dihidupi dari bawah (practiced city). Concept-city berarti kota dilihat dari ketinggian, perspektif voyeur, tampak teratur, dan terorganisasikan dengan baik. Practiced city adalah sebaliknya; kota yang dihidupi, yang berupa praktik tak terduga dari keseharian warga. Dalam practiced city ini berjalan kaki merupakan bentuk taktik sehari-hari, sebuah speech act atau tindakan tutur yang memungkinkan individu menegosiasikan dan melawan struktur dominan.

Bagi de Certeau, setiap langkah pejalan kaki, sekecil apapun, menjadi manifestasi dan penegasan atas demokrasi dan otonomi pribadi. Tepat pada poin tersebut, para penulis mengungkap kemunculan taktik-taktik kecil di berbagai ruang seputaran Yogyakarta. Entah pada pusat kota dengan perkampungannya, pusat-pusat konsumsi modern, maupun perjalanan meninggalkan dan pulang ke Yogyakarta.

Dalam eksplorasinya di Jogoyudan (kampung Code), Agnes Deborah mengisahkan perjumpaannya dengan sebuah pernyataan visual sederhana. “Dinding dengan tulisan ‘Bukan WC Umum’ adalah bentuk penjagaan martabat ruang, sebuah deklarasi kedaulatan pribadi” (Deborah, 2025, hlm. 29). Kampung Code merupakan sebuah wilayah yang diapit oleh jurang kontradiksi antara gedung modern yang menjulang dengan kehidupan yang sangat padat pada bantaran sungai. Dinding yang diamati oleh Agnes merupakan bentuk deklarasi kedaulatan di tengah kepadatan urban. Deklarasi tersebut menjadi contoh sempurna dari micropolitics of space, sebentuk respons untuk melawan invasi publik yang datang tanpa permisi. Pemberian batas tersebut juga menawarkan otonomi dan privasi di tengah sebuah area yang batasnya nyaris tak kasat mata.

Pengalaman lain adalah yang dialami oleh Alexander Dimas Adityaputra di Alun-alun Yogyakarta. Alun-alun menjadi ruang yang sarat dengan simbol kekuasaan maupun ritual. Bagi Dimas, alun-alun memberikan perjalanan afektif yang mengambil dimensi eksistensial maupun spiritual. Ia merasai dualitas kosmis yang menegaskan Alun-alun Utara sebagai ruang yang sakral dan tertib serta Alun-alun Selatan sebagai sebuah ruang hiburan dan profan. Tindakan berjalan kaki di kedua alun-alun menjadi pengalaman yang melampaui geografi: “berjalan di dua alun-alun ini menjadi semacam perjalanan eksistensial: dari kesunyian menuju keramaian, dari spiritualitas menuju materialitas, dari simbol kekuasaan menuju simbol rakyat” (Adityaputra, 2025, hlm. 129).

Kedua pengalaman di atas menunjukkan bahwa ruang publik di Yogyakarta menjadi medan dialektis antara tradisi, spiritualitas, dan kapitalisme bersua. Dengan demikian, berjalan menjadi strategi untuk menyerap dan merundingkan identitas kolektif kota yang senantiasa berada dalam tegangan dan sama sekali tidak statis.

Memori, Komodifikasi, dan Sikap Kritis

Dalam buku ini psikogeografi juga berfungsi sebagai alat kritik terhadap penyeragaman (homogenisasi) global, komodifikasi emosi, dan keterasingan urban. Will Self (2007), misalnya, terkenal dengan penceritaan gaya monolog yang jittery dan kritik sarkastiknya mengarahkan pada ruang yang kehilangan afek. Ruang seperti bandara dan pusat perbelanjaan secara artifisial menjual kenyamanan atau ketentraman yang justru menyingkirkan pengalaman afektif yang natural.

Dalam buku ini, Syalshabilla Nevanya Hutagaol mengeksplorasi Stasiun Tugu dan kawasan pinggirannya (edgelands). Dengan mengadopsi sikap kritis ala Will Self, Vanya berupaya memotret upaya korporat untuk mengubah ruang publik fungsional menjadi ruang konsumsi yang didominasi spectacles. Ini adalah puncak dari Attitude Problem saya, sebuah sindiran yang tak terucapkan terhadap upaya-upaya korporat untuk memanipulasi emosi publik.”, tulisnya (Hutagaol, 2025, hlm. 35). Attitude problem sebagaimana Vanya sebut merupakan penolakan terhadap ilusi kontrol dan kebahagiaan palsu yang ditawarkan atau dijual oleh sistem modern. Stasiun Tugu, dengan fasad kolonialnya yang megah tetapi steril secara modern, menjelma menjadi “mesin untuk melupakan” sejarah dan keunikan tempat, yang kini bertransformasi menjadi pusat perbelanjaan mini.

Lebih lanjut, kolase tulisan dalam buku ini juga menekankan bagaimana memori dan emosi melekat pada detail ruang yang terabaikan. Memori tidak disimpan dalam monumen megah, tetapi dalam fragmen indrawi: bau, tekstur, dan interaksi yang tak terduga. Saat menelusuri Taman Sari, Klaudia Beatrix Cempaka menemukan intimasi pada perjumpaannya dengan seorang kakek penjual es krim. Taman Sari, yang notabene adalah situs yang dikomodifikasi dan dipagari untuk lokasi pariwisata, diubah oleh Cempaka menjadi pengalaman afektif manusiawi yang sederhana. Alih-alih arsitektural istana air yang agung, Cempaka menemui/kan pengalaman bahwa “peta afektif kota tidak digambar oleh arsitek, melainkan oleh perasaan yang berpindah antar-tubuh” (Cempaka, 2025, hlm. 152).

Momen yang dialami Cempaka menjadi garis bawah tesis sentral buku ini: bahwa hubungan antara manusia dengan ruang atau kotanya bersifat personal, tidak terlukiskan, dan menolak menjadi peta atau denah fungsional. Ruang menjadi sebuah artefak afektif. Berjalan kaki, dengan kelelahan asyiknya dan kepekaannya, menjadi taktik untuk merekam narasi yang enggan tertulis. Sebuah arsip emosional yang jauh lebih jujur daripada data statistik.

Menulis Ulang Ruang: Dari Teori ke Pengalaman Hidup

 Buku ini menjadi demonstrasi bahwa psikogeografi telah melampaui ranah teoretis murni. Psikogeografi merupakan praktik hidup yang menghubungkan tubuh, ruang, dan emosi. Lewat paduan flânerie yang estetis, kritik politik Sinclair, dan taktik de Certeau, para penulis mengubah ruang/kota yang kaku dan terencana menjadi narasi yang subjektif, kritis, dan manusiawi.

Setiap tulisan dalam buku ini menjadi upaya untuk merebut kembali otonomi tubuh dari logika efisiensi. Menjelajahi alun-alun yang sakral dan profan, menyusuri edgelands Stasiun Tugu, mengamati micro-politics Kampung Code, hingga merayakan kelambatan sebagai resistensi; menjadi pengingat bahwa sebuah ruang/kota merupakan teks yang terbuka dan senantiasa ditulis ulang oleh langkah kaki, amatan, maupun emosi yang menyembul dari celah retak tembok bangunan.

Akhir kata, merujuk pada Frédéric Gros (2014), bahwa “Think while walking, walk while thinking, and let writing be but the light pause, as the body on a walk rests in contemplation of wide open spaces”, maka saat Anda membaca buku ini Anda diundang untuk berjalan. Tepat pada detik ini pula Anda diundang untuk menjadi penulis ruang/kota Anda sendiri. Anda diundang untuk mencari makna yang tersembunyi di sela-sela rutinitas yang tergesa.

Unduh Buku: [EBOOK] A. Harimurti & Yulianus Febriarko (Eds.) – Emosi, Memori, Taktik Sehari-hari (2025)

 

Daftar Acuan

Adityaputra, A. D. (2025). Alun-Alun Yogyakarta: Dua ruang, dua irama. Dalam A. Harimurti & Y. Febriarko (Eds.), Emosi, memori, taktik sehari-hari: Eksperimentasi catatan psikogeografis (hlm. 122–136). Fakultas Psikologi Universitas Sanata Dharma.

Benjamin, W. (1999). The arcades project (H. Eiland & K. McLaughlin, Trans.). Harvard University Press. Karya asli terbit 1927–1940.

Cempaka, K. B. (2025). Emosi dan memori di Taman Sari. Dalam A. Harimurti & Y. Febriarko (Eds.), Emosi, memori, taktik sehari-hari: Eksperimentasi catatan psikogeografis (hlm. 149–165). Fakultas Psikologi Universitas Sanata Dharma.

Coverley, M. (2006). Psychogeography. Pocket Essentials.

Deborah, A. (2025). Code, aliran, kehidupan. Dalam A. Harimurti & Y. Febriarko (Eds.), Emosi, memori, taktik sehari-hari: Eksperimentasi catatan psikogeografis (hlm. 11–29). Fakultas Psikologi Universitas Sanata Dharma.

de Certeau, M. (1984). The practice of everyday life (S. Rendall, Trans.). University of California Press.

Debord, G. (1958/2021). Theory of the dérive (Ken Knabb, Trans.). Les Lèvres Nues, (9), 1–6. Karya asli terbit 1956.

Gros, F. (2014). A philosophy of walking. Verso.

Hutagaol, S. N. (2025). Berjalan kaki menuju jantung moraine Yogyakarta. Dalam A. Harimurti & Y. Febriarko (Eds.), Emosi, memori, taktik sehari-hari: Eksperimentasi catatan psikogeografis (hlm. 30–42). Fakultas Psikologi Universitas Sanata Dharma.

Self, W. (2007). Psychogeography. Bloomsbury.

Solnit, R. (2014). Wanderlust: A history of walking. Penguin Publishing Group.

Tentang Penulis

Editor Nalarasa pada rubrik Teori. Sehari-hari mengajar di Fakultas Psikologi, Universitas Sanata Dharma.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *