Esai

Njoo Cheong Seng, Gagaklodra, dan Rasialisme Kebangsaan

Tulisan ini bertutur mengenai cerita detektif yang muncul dan populer di Hindia Belanda pada 1920an hingga 1930an. Dengan mengambil titik tolak dari salah satu penulis cerita detektif bernama Njoo Cheong Seng, saya berupaya melihat cerita detektif bukan hanya berkaitan dengan bacaan hiburan populer, tetapi juga membicarakan mengenai persoalan-persoalan sosial di Hindia (saat ini menjadi bagian dari Negara Kesatuan Republik Indonesia). Setelah hampir seratus tahun, mengapa kita merasa perlu membangunkan arwah Njoo dan Gagaklodra-nya yang mungkin sama sekali asing di telinga publik Indonesia pasca-kemerdekaan?

Jedamski (2008) menuliskan bahwa cerita detektif pada masa Hindia-Belanda mengupas persoalan hubungan antara subyek penjajah dengan subyek terjajah. Pada masa kolonial, muncul tren penggabungan antara pengalaman hidup penulis dengan saduran dan terjemahan cerita detektif di Hindia. Ciri khas cerita detektif adalah hadirnya tokoh detektif yang berhadapan dengan kriminal. Cerita-cerita termaksud menjadi jalan masuk untuk memperlihatkan persoalan di Hindia-Belanda dalam wujud bromocorah, bandit, atau kriminal — singkat kata berkisah soal kriminalitas. Dalam cerita detektif, kriminal merepresentasikan gagasan orang-orang yang disingkirkan atas nama keamanan dan ketertiban. Lewat kisah-kisahnya, Njoo berupaya mendobrak kategorisasi rasial, yaitu orang Eropa, Timur Asing, dan Pribumi, yang hanya menguntungkan kalangan penguasa.

Njoo lahir dari keluarga Tionghoa peranakan pada tanggal 6 November 1902. Ia adalah seorang wartawan dan juga pemain sandiwara, di samping juga populer sebagai seorang penulis sastra. Njoo mulai terlibat dalam dunia sandiwara pada usia dua puluh tahun, yakni pada 1928. Dengan bergabung di kelompok sandiwara populer Miss Riboet Orient, Njoo berkesempatan mengunjungi berbagai tempat di Jawa dan Sumatera untuk pentas. Ia juga mampir dan nyantrik ke beberapa kelompok sandiwara. Misalnya, pada 1934, Njoo sempat bergabung ke grup Dardanella yang kemudian memperkenalkan negeri lain di luar Hindia-Belanda: Singapura, India, Burma, dan Afghanistan. Dengan bepergian ke luar Hindia, Njoo bisa memperbandingkan kondisi luar dengan kondisi di Hindia — yang pada waktu itu berada di bawah kekuasaan pemerintah kolonial Belanda.

Pengalaman Njoo “menikmati” budaya lain tersebut menjadi catatan penting untuk karya cerita detektifnya. Cerita detektif dipilih Njoo sebagai wahana penyebaran gagasan yang boleh jadi karena populernya cerita-cerita tersebut pada masanya. Selain itu, catatan Cohen (2001) menunjukkan bahwa cerita-cerita kriminal seperti dalam cerita detektif seringkali dimainkan dalam kelompok sandiwara (tonel) yang digelutinya.

Pada tahun 1932, Njoo (1953) mulai menulis cerita detektif berjudul Gagaklodra. Gagaklodra merupakan cerita detektif yang berjilid-jilid dengan judul antara lain: Gagaklodra Tengkorak Hidup di Kramat Kuda (1932), Si Badoewi Gagaklodra Adoe Djago (1933), Gagaklodra contra Gagaklodra (1934), Hantu Hitam (1935), Garoeda Baboe: Gagaklodra Hindoe (1936), Brandal Afghans: Gagaklodra Khyber Pass (1937), Shik Lala Kodi: Gagaklodra Melawan Raksasa (1937), Gagaklodra di  Benkoelen (1937), Gagaklodra Main Tjap Tji Kie (1938), Awas Tjopet  Ditjopet (1939), Kesembilan Gagaklodra (1930-1940), Bitjokok Lawan Bitjokok (1940), Gagaklodra Mentjari Allah (1942), Kipas Hitam(1945), R. Wiradraka alias Gagaklodra “Mantu Lurah” (1948), dan Bom Linglung: Gagaklodra Menjikat Dunia (1951). Tokoh utama cerita ini adalah Gagaklodra, seorang antihero, yang seringkali menyebut dirinya sebagai kriminal paling ditakuti dan dicari polisi di Hindia. Awalnya, Gagaklodra hadir di hadapan pembaca Hindia melalui majalah tercetak. Cerita Gagaklodra bisa diperoleh dalam majalah Liberty, Tjerita Romans, Tjantik, Tjilik Romans, dan Tjermin. Gagasan dalam cerita detektif ini bisa disampaikan dan dipahami oleh pembaca karena adanya bahasa bersama (lingua franca), yakni Melayu. Dalam gagasan Anderson (1983/2008), bahasa Melayu (pasar) inilah yang memungkinkan orang-orang terjajah mengimajinasikan sebuah bangsa bernama “Indonesia”. Meskipun baik penulis maupun para pembaca tidak mengenal, tidak pernah saling bertemu, bahkan tidak pernah saling mendengar; tetapi dengan media cetak dan membaca serial Gagaklodra, anggota komunitas bangsa mampu untuk membayangkan komunitas bersama yang ada di Hindia-Belanda.

Dikisahkan bahwa Gagaklodra mengembara dari satu tempat ke tempat lainnya, yang sebagian besar berada di wilayah Sumatera dan Jawa. Gagaklodra juga melakukan pengembaraan ke India, Burma, dan Afghanistan — tempat yang sebelumnya pernah dikunjungi NCS untuk pementasan sandiwara. Gagaklodra diceritakan menghadapi kriminal-kriminal lokal yang dianggap mengacau di masyarakat dan kerap kali ia jumpai di tempat pengembaraan. Gagaklodra membantu mengalahkan para kriminal tersebut. Para kriminal ini kadangkala dikalahkan dalam arena judi atau sabung ayam. Dalam kisah lain, kriminal dikalahkan lewat adu ketangkasan yang seringkali berakhir dengan terbunuhnya para kriminal lokal. Tidak jarang Gagaklodra juga sekadar menyadarkan para kriminal untuk tidak lagi melakukan tindakan kriminal. Singkat kata: Gagaklodra dinarasikan sebagai seorang jago(an).

Kriminal-kriminal lokal ini perlu dilihat lebih jauh, bukan sekadar bumbu cerita detektif, melainkan juga sebagai representasi persoalan di Hindia. Njoo yang adalah seorang Tionghoa peranakan seolah-olah hendak mengisahkan bahwa di daerah koloni kondisi sosial tidak stabil. Tionghoa dalam negara kolonial Hindia Belanda sangat mudah untuk menjadi korban diskriminasi berdasar etnisitas dan sentimen kesukuan. Posisi Tionghoa tidak pernah jelas atau dengan jernih digambarkan Peter Carey (1984) lewat ungkapan Cina wurung, Londo durung, Jawa Tanggung (tak lagi jadi Cina, Belanda juga belum, Jawa pun tanggung). Diskriminasi rasial merupakan satu persoalan penting dalam kondisi sosial yang tidak stabil pada masa kolonial. Negara, dalam hal ini penguasa kolonial, dianggap tidak hadir sehingga seorang seperti detektif Gagaklodra (yang sekaligus menyebut diri sebagai kriminal) perlu muncul menggantikan peran penguasa yang mestinya membantu dan menstabilkan kondisi masyarakat.

Sebagai catatan, kebijakan kolonial di Hindia memang tidak menginginkan terjadinya pembauran antar-kelompok. Hal tersebut ditakutkan akan memunculkan kelompok-kelompok perlawanan yang bisa saja melakukan perlawanan terhadap pemerintah kolonial Belanda dan mengganggu kestabilan di koloni. Sistem yang dibentuk oleh pemerintah kolonial ini rentan menimbulkan persoalan  intoleransi dan penyingkiran dalam masyarakat. Kelompok yang paling merasakan dampak dari pola seperti ini adalah Cina peranakan, kelompok masyarakat darimana Njoo berasal. Ketakutan inilah yang telah dilihat Njoo muda dalam kunjungan-kunjungannya ke berbagai daerah saat melakukan pementasan. Beruntung bahwa Njoo masih berpikir untuk membagikan hasil penyelidikannya tersebut dalam wujud cerita detektif, yang tentu saja mudah populer pada masa itu.

Kisah Gagaklodra dalam menyadarkan kelompok-kelompok kriminal menunjukkan adanya upaya perbaikan terhadap sistem yang ada. Dalam beberapa seri yang hadir dengan latar tempat di Sumatera Timur (1932), Sumatera Selatan (1934), dan periode akhir pendudukan Jepang (1945), Gagaklodra membunuh para kriminal tersebut. Hal ini bisa dibaca sebagai bentuk sistem yang tidak lagi bisa diperbaiki dan alternatif yang bisa diterima adalah dengan menghilangkan (membunuh) sistem tersebut.

Melihat latar tempat dimana Gagaklodra membunuh para kriminal, kita bisa membaca bahwa memang ada ketidakstabilan kondisi di wilayah tersebut. Misalnya, sejak tahun 1920an, para kuli perkebunan di Sumatera Timur gencar melakukan protes terhadap pemilik perkebunan yang hidup mewah — kondisi yang berkebalikan dengan kehidupan para kuli. Protes juga menyasar pada sistem kontrak dan sultan-sultan Melayu yang hidup berfoya-foya di tengah krisis tahun 1930. Setali tiga uang di Sumatera Selatan, Njoo menggambarkan perubahan kota Palembang karena kehadiran perusahaan-perusahaan minyak yang kemudian memperlihatkan jurang berlatar kelas sosial dalam masyarakat yang seringkali menimbulkan bentrokan antar-penduduk. Masa kacau ketiga terjadi pada periode ketidakpastiaan atau kekosongan kekuasaan yang menandai menyerahnya pemerintah pendudukan Jepang di Indonesia terhadap pasukan sekutu di pertengahan tahun 1945. Dalam periode penantian pasukan pendudukan yang baru, masyarakat Indonesia telah bertindak sendiri-sendiri sesuai dengan kepentingannya. Salah satu peristiwa yang digambarkan Anderson (1972/2018) dalam periode yang kosong ini adalah diculiknya Soekarno dan Hatta oleh para pemuda, yang lalu memaksa kedua tokoh tersebut untuk memproklamasikan kemerdekaan negara-bangsa Indonesia.

Melalui cerita detektif ini, Njoo dan Gagaklodra-nya telah meninggalkan satu kenang-kenangan yang kiranya tidak hanya tersimpan dalam lemari buku pembaca, tetapi perlu untuk diingat dan diterapkan. Sebagai catatan, persoalan rasialisme yang dibangun pemerintah kolonial Belanda nyata-nyata masih direproduksi oleh pemerintah negara-bangsa Indonesia pasca-kolonial. Pluralitas dihambat dengan berbagai macam aturan tertulis maupun tidak tertulis mengenai bagaimana menjadi orang Indonesia.

Persoalan pluralitas dan sistem yang tidak toleran masih meninggalkan kisah kekejian dalam Indonesia kontemporer. Dalam kasus Tionghoa Indonesia, kita bisa menyaksikan peristiwa kerusuhan-kerusuhan seperti terjadi pada 1965, peristiwa anti-Tionghoa di Solo 1980, kerusuhan di Makassar 1997, dan kekejian di Jakarta pada Mei 1998. Korban yang selalu disasar dalam kerusuhan-kerusuhan tersebut adalah masyarakat Tionghoa. Andai apa yang dituliskan Njoo tidak sekadar menjadi koleksi dan bisa menjadi cermin ke-Indonesia-an kita bersama, mungkin hari ini kita tidak lagi perlu menjadi bangsa yang merasa gagah justru dengan mempraktikkan kekejian terhadap sesama anggota bangsa — hanya karena anggota tersebut dilihat berbeda. Dalam rentang sejarah, kita bisa menyebut sesama yang disingkirkan ini dengan: Cina, Aceh, Komunis, Marsinah, Timor, Munir, Salim Kancil, petani di Urut Sewu, atau Papua.

Njoo meninggal 1962. Barangkali kesialan terbesarnya adalah kisah Gagaklodra dan segala tetek-bengek permasalahan masyarakat kian dilupakan dalam berbagai budaya populer setelah kepergiannya (Tarupay, 2017). Cerita detektif yang mestinya bisa menjadi cermin etnografis Indonesia, justru semakin pudar pada 1960an dan digantikan budaya populer yang terkadang sama sekali lepas dari konteks kebangsaan kita. Apa kita harus kecewa?

 

Daftar Acuan

Anderson, B. (1983/2008). Imagined communities: Komunitas-komunitas terbayang. Yogyakarta: Insist Press & Pustaka Pelajar.

Anderson, B. (2018). Revoloesi pemoeda: Pendudukan Jepang dan perlawanan di Jawa 1944-1946. Serpong: Marjin Kiri.

Carey, P. (1984). Changing Perceptions of the Chinese Communities in Central Java, 1755-1825”. Indonesia, 37, 1-47.

Cohen, M.I. (2001). On the Origin the Comedi Stamboel Populer Culture, Colonial Society, and the Parsi Theatre Movement. Bijdragen tot de Taal-, Land- en Volkenkunde, 157(2), 313-357.

Jedamski, D. (2008). Sastra Populer dan Subjektivitas Postkolonial: Robinson Crusoe, Count dari Monte Cristo, dan Sherlock Holmes di Indonesia Masa Kolonial. Dalam K. Foulcher & T. Day (ed.), Clearing space: Sastra Indonesia modern kritik postkolonial. Jakarta: Yayasan Obor Indonesia & KITLV-Jakarta.

Seng, N.C. (1953). 22 tahun dengan Gagaklodra. Malang: Prana Agency Service.

Tarupay, H.K. (2018). Waktu Imajinatif Njoo Cheong Seng dalam Detektif Gagaklodra. Dalam A. Windarto, A. Harimurti, H.S. Prabangkara & P.A. Rezkiyana (ed.), Kosmopolitanisme si/apa: Benedict Anderson, Indonesia & revolusi pemuda. Yogyakarta: Sanata Dharma University Press & Lembaga Studi Realino.

Tentang Penulis

Editor Nalarasa pada rubrik Esai.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *